Ride For Heroes, Film Tapak Tilas Bikers dan Kepahlawanan Indonesia

0
Ride For Heroes
- Pemutaran perdana film bertajuk Ride For Heroes besutan komunitas motor Royal Riders Indonesia (RORI) digelar Teater Salihara, Pasar Minggu, Sabtu (16/12/2017). Foto: Gilang

NaikMotor – Pemutaran perdana film bertajuk Ride For Heroes besutan komunitas motor Royal Riders Indonesia (RORI) digelar Teater Salihara, Pasar Minggu, Sabtu (16/12/2017). Digarap dengan profesional, film tapak tilas bikers ini mampu mengunggah rasa nasionalisme.

Meski dibuat, dijalani dan digarap oleh member RORI, Ride For Heroes ‘bukan punya’ RORI. Seperti yang selalu digaungkan oleh Sutan Manurung, Koordinator Utama Ekspedisi RFH, Ride For Heroes justru dipersembahkan dan dibuat untuk seluruh bikers Tanah Air.

Film Ride For Heroes sendiri menceritakan perjalanan sejumlah member RORI yang terdiri dari 3 tim saat melakukan touring dari Jakarta-Surabaya pada 3-11 November 2017 lalu untuk menghadiri peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November di Surabaya.

Ride For Heroes
Beberapa bahkan membawa istri dan anak mereka, menjadikan Ride For Heroes memang pemutaran film untuk semua lapisan dan kelas.

Meski terdiri dari 3 tim, film ini lebih mengambil fokus menceritakan ‘jatuh bangun’ member di group 1. Grup yang disebut grup paling menderita karena touring dari Jakarta via Bogor, Bandung, Yogyakarta, Pacitan-Trenggalek-Malang dan Surabaya.

Meski disebut grup neraka, perjalanan grup 1 justru yang paling mendefiniskan Ride For Heroes. Susahnya jalan yang dilalui memaksa tiap orang untuk melihat kembali tujuan awal riding ini serta tapak tilas yang dilakukan pahlawan.

Apa yang menarik dari film ini adalah tidak melulu soal anak motor atau soal sejarah. Ride For Heroes justru menggabungkan kedua. Apik dalam bercerita adalah keunggulan film berdurasi 50 menit ini. Sesuai tujuannya film yang menginsirasi biker jaman now.

Ride For Heroes
Salah satu motor yang dipakai Ride For Heroes.

Ada bagian film yang mendokumentasikan situs-situs sejarah yang terlupakan mulai dari museum PETA hingga tugu batas Monumen Perjanjian Renville di Banjarnegara, yang memaksa pasukan Siliwangi hijrah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah.

Ada pula bagian member RORI menyambangi Museum Sasmitaloka di Yogyakarta serta nyekar ke pusara Jenderal Soedirman dan diterima hangat oleh jajaran petinggi TNI. Tidak hanya member RORI, Ride For Heroes juga mengikutsertakan orang dari klub dan komunitas lain semisal BBMC

“Saya bilang ini adalah legacy buat generasi masa depan, bahwa sebagai bikers apa yang kita persembahkan buat pahlawan yang sudah berkorban darah buat kita. Karena tanpa mereka kita tidak akan bisa menjalankan hobi kita soal motor sekarang ini,” kata Sutan Manurung.

Ride For Heroes
Pembukaan diisi dengan pentas teater IKJ yang membawakan sepenggal perlawanan Jenderal Soedirman

Setelah dari Yogya, grup 1 bergerak ke Malang via jalur Pacitan-Trenggalek-Malang, jalur yang dipakai pasukan Jenderal Soedirman bergerilia menghadang Belanda. Di saat yang sama konflik mulai terlihat di tubuh grup 1 sedangkan grup 2 dan 3 sudah sampai Malang.

Bagian inilah yang menceritakan soal persaudaraan di jalan. Salam Satu Aspal istilahnya. Bahwa brother yang sesungguhnya ialah yang saat itu riding bareng, bukan di rumah. “RORI bukan agama, santai ajalah,” kata salah satu member RORI di film.

Ride For Heroes
Pemutaran film Ride For Heroes juga mengundang beberapa klub dan komunitas lain.

Grup 1 akhirnya sampai di Surabaya pada 10 November 2017 pukul 22.00 WIB. “Walaupun itu jam 12 malam kurang satu menit itu tetap tanggal 10 November. Kami pun berhasil memenuhi target. Sebuah perjalanan yang sulit dan penuh makna telah kami lewati,” kata Sutan.

Esoknya semua member RORI bergabung dan bertandang ke museum bekas rumah HOS Tjokroaminoto. Kosan paling berbahaya di Indonesia, karena di sini pernah ngekos 5 orang bapak Indonesia dalam satu kamar yaitu Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, dan Kartosoewirjo.(Agl/nm)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here