Motor Nasional Mau Mandiri, Pemerintah Mesti Ada Keberpihakan

0
100
Motor Nasional Mau Mandiri
Gesits siap diproduksi menjadi industri nasional. Foto: Dok.NMC

NaikMotor – Proyek motor listrik garapan Garansindo dan ITS, Gesits, membuka babak baru soal industri motor nasional mau mandiri. Gesits diklaim merupakan produk murni karya anak bangsa, karena baik merek, pemasaran, hingga teknologinya dikembangkan sendiri oleh anak negeri.

Sejumlah petinggi pemerintah pun menunjukkan antusiasmenya terhadap Gesits. Dukungan pertama datang dari Menristek Muhammad Nasir, yang mengatakan bahwa untuk mendorong merek lokal mampu bersaing di kancah nasional maka pemerintah butuh ‘keberpihakan’ soal regulasi.

“Kita harus challenge, karena motor-motor yang dibuat di Indonesia itu dibuat oleh kita. Ternyata SDM kita mampu, kita bisa. Maka kita duduk bersama-sama dengan Kementerian Perindustrian dan Perhubungan khususnya untuk transportasi yaitu bagaimana regulasi ini adalah yang berkaitan dengan keberpihakan,” katanya.

“Karena itu keberpihakan itu menjadi sangat penting, yang penting kendaraan itu punya safety supaya tidak ada hambatan, dan saya yakin kita bisa melakukan itu, maka saya sampaikan mari kita tata ulang regulasi regulasi tadi,” imbuh Menristek.

Gesits Bersiap Masuk Jalur Produksi
PT Gesits Technologies Indo (GTI) menandatangai kesepakatan dengan PT Wika Industri dan Konstruksi untuk memproduksi Gesits. Foto: Gilang

I Gusti Putu Suryawirawan, Dirjen Ilmate Kemenperin menambahkan, supaya Gesits atau produk otomotif lokal lain bisa bersaing maka produk itu harus jadi sebuah industri. Masalahnya, menjadikannya sebuah industri tidak mudah, karena bergantung pada volume, R&D dan pemasaran.

“Industri itu membutuhkan volume, kita bisa membuat, tapi untuk produksi kalau tidak cukup itu bisa menjadi masalah, kita lihat sekarang ini pasar tersebut dikuasai oleh asing, karena mereka memiliki volume saat ini, sekarang dengan Gesits kita mulai dengan sesuatu yang baru,” katanya.

“Industri membutuhkan R&D. Industri tanpa R&D maka itu cuma pabrik bukan industri. Apa yang membedakan, yang terjadi saat ini kita bisa membuat, tapi kita tidak punya merek dan teknologinya. Selain punya volume, kita juga harus punya kemandirian, dan sekarangg waktu kita berubah menghadapai persaingan yang ketat,” imbuhnya.

Lokasi pabrik perakitan Gesits di salah satu area kompleks industri PT Wika di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat

Soal industri motor nasional mau mandiri, I Putu mengatakan, jika industri otomotif nasional mau besar maka tidak bisa lagi mengandalkan pada pihak lain. Walaupun diketahui bersama, saat ini motor-motor merek Jepang yang ada di Indonesia kebanyakan buatan anak negeri, tapi tidak bisa diakui karena mereknya dari luar ngeri.  

“Merek mereka tapi kita yang membuat, komponen juga sama. Tapi kita bukan pemegang merek. Ini sekarang kita mulai yang baru, kita mulai memegang merek, kita sudah bilang ke pak Menristek, segala sesuatu akan kita ubah, tentunya tidak mengurangi standar keselamatan, dan keamanan yang berhubungan dengan kementerian perhubungan,”

“Tapi yang namanya industri kita tetap menggunakan satu konsep dasar, sepanjang dia memenuhi proses welding dan painting maka dia adalah industri, kita lihat bahwa memang kendaraan itu kita produksi sendiri, komponen komponen yang diproduksi semua kita lakukan sendiri. Jadi kita jagan berkecil hati, kita harus mulai dan kita harus rawat ini sama sama. Supaya bisa tumbuh,” katanya.

Garansindo tidak jadi membawa Gesits ke EICMA
Tahap awal, pabrik PT Wika mampu memproduksi 50 ribu unit motor per tahun. Tahun berikutnya, kapasitas produksi akan terus dikembangkan hingga mencapai 100 ribu unit per tahun. Foto: Gilang

Masih satu pandangan dengan Muhammad Nasir dan I Putu, namun Fajar Harry Sampuro Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Kementerian BUMN menambahkan, jika ingin Gesits bisa bersaing dengan merek lain maka masyarakat Indonesia juga harus berjihad memakai produk Indonesia.

Sebab kata Fajar, hal yang mempersulit produk lokal bersaing bukan lantaran karena kalah teknologi melainkan masyarakat masih memandang sebelah mata. Hal itu membuat banyak produk-produk otomotif dalam negeri jadi kalah bersaing dengan produk luar. Termasuk industri motor nasional mau mandiri masih banyak tantangannya.

“Kita harus jihad. Sebanyak 99 persen motor adalah merek Jepang, yang buat kita, yang desain kita tapi mereknya Jepang. Jihad kita adalah berani memakai. Berani nggak kita pakai? Yang menjatuhkan industri Indonesia adalah orang Indonesia sendiri. Setelah meluncur pakai motor ini berani gak?’ pungkasnya.(Agl/NM)

LEAVE A REPLY

*