Mantul, Honda BeAT Listrik Racikan Alitt dan Katros Ber-SNI

0
139
Foto: Firdaus Ali

NaikMotor – Kolaborasi Alitt dan Atenk Katros Garage menghasilkan sebuah sepeda motor Honda BeAT dikonversi menjadi motor listrik. Menariknya, motor tersebut sudah berlabel SNI.

Alitt Susanto atau yang lebih dikenal dengan panggilan Shitlicious dan Atenk Katros Garage mendapat mandat dari Kementrian Perindustrian untuk membuat sebuah terobosan berupa mengkonversi sepeda motor bekas menjadi sepeda motor listrik untuk menjadi hadiah bagi pengunjung yang membeli tiket dalam gelaran Indonesia Modification Expo 2020 (IMX 2020) yang dihadirkan secara virtual.

“Kami mendapat tugas dari kementrian Perindustrian melalui pak Putu, mengajak untuk mendukung gerakan Go-Green dengan memodifikasi motor bekas yang dikonversi menjadi motor listrik. Projek pembuatan motor listrik ini juga bekerjasama dengan NMAA sebagai investor,” ungkap Alitt yang juga seorang penulis buku dan blogger.

“Karena projek ini dari Kementrian Perindustrian jadi motor listrik ini juga harus layak jalan sesuai standarisasi atau SNI. Alhamdulillah sudah lolos uji SNI dan secara administrasi nantinya pemenang motor ini akan mendapat surat rujukan untuk nantinya diurus ke samsat setempat,” imbuh Alitt.

Perihal spesifikasi, Alitt juga menceritakan bahwa Honda BeAT ini yang dipakai hanya framenya saja, dengan tujuan untuk mempertahankan identitas motor untuk mengurus administrasi di SAMSAT.

Alitt bersama BeAT listriknya. Foto: Firdaus Ali

“Hanya frame atau rangkanya saja yang kita pakai dengan tujuan agar identitas keabsahan motor masih tercatat di SAMSAT. Untuk top speed bisa mencapai 80 km/jam. Sedangkan waktu pengecasan dibutuhkan sekitar 3 jam. Oh ya, motor ini juga sudah menggunakan sistem Regeneratif Breaking, jadi saat melewati jalanan yang menurun, dinamo akan membalikan arus dan menghasilkan arus listrik untuk mengisi battery.”

Saat kami tanyakan berapa biaya untuk membangun motor listrik ini, Alitt membeberkan bahwa ongkosnya terbilang masih tinggi dikarenakan masih prototipe.

“Biaya masih terbilang mahal, kisaran Rp 40 jutaan dikarenakan masih prototipe, belum diproduksi massal. Jadi tentu masih mahal untuk pembuatannya,” tutup Alitt. (Daus/Prob/NM).

LEAVE A REPLY

*