Potret Pemudik Naik Motor 2017 Bagian 2

0
148
Potret Pemudik Naik Motor 2017 Bagian 2
Para pemudik yang melalui jalur pantura pada H-2, Jumat (23/6/2017). Europia mudik telah menghilangkan kesadaran pemudik akan pentingnya keselamatan berkendara. Foto: Yusuf Arief

NaikMotor — Mudik telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Berbagai cara dilakukan para pemudik untuk menuju ke kampung halaman, salah satunya dengan naik motor.

H-2 jelang perayaan Hari Raya Idul Fitri, Jumat (23/6/2017) menjadi puncak mudik. Pantauan naikmotor di sepanjang jalur Pantura hingga Cirebon, ratusan ribu orang yang mengendarai sepeda motor berbondong-bondong melintasi jalan ini menuju tujuannya masing-masing.

“Mudik telah menjadi agenda saya dan keluarga tiap tahunnya. Mudik tahun ini saya mengajak anak, mudik tahun lalu anak dan istri naik kereta, saya naik motor.” ucap Anton, dari Kalideres, Jakarta Barat saat ditemui naikmotor.com di Posko Mudik Federal Oil yang berada di Rumah Makan Taman Sari 2, Subang, Jawa Barat.

Anton bersama anak dan istrinya melakukan perjalanan mudik  menunggangi Honda Vario lansiran 2015 dengan tujuan Cirebon. Tidak ada rasa khawatir bagi pria berusia 29 tahun ini saat membawa anak yang berusia 2 tahun 5 bulan dalam perjalanan mudik ini.

“Yang penting safety dan jalan santai aja. Kalau lelah atau anak minta berhenti, langsung istirahat,” ucapnya.

Faktor ekonomi juga menjadi alasan keluarga muda ini yang menjadikan sepeda motor sebagai moda transportasi yang dipilihnya. Tiket kereta dan Bus yang mahal menjadi pertimbang utama. “Naik Motor lebih murah biayanya mas,” tambah Anton.

Anton adalah salah satu potret dari ratusan ribu bahkan jutaan pemudik yang melakukan perjalanan mudik dengan sepeda motor. Beragam perilaku dan gaya berkendara pemudik saat naik motor terbilang sangat mengkhawatirkan.

Mulai dari kelengkapan safety, kapasitas barang, hingga membawa penumpang lebih dari 2 orang banyak kami jumpai di jalur ini. Kesadaran akan pentingnya keselamatan berkendara para pemudik seakan termakan oleh euforia mudik yang telah menjadi ritual tahunan.

Miris sekali melihat anak-anak bahkan balita yang harus dihadapkan dengan intaian para malaikat penyabut nyawa di jalan raya. Meski berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah, Aparat Kepolisian, Agen Pemegang Merek, Perusahaan Swata dan Media belum maksimal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan berkendara di jalan.

Padahal secara tidak langsung para pemudik telah menyadari  bahwa nyawa adalah taruhannya dalam euporia mudik. (YA/ NM)

LEAVE A REPLY

*