Pembalap dan Komunitas Bicara Soal Regulasi Indonesia Trackday Series

0
106
Regulasi Indonesia Trackday Series
Balapan Indonesia Trackday Series seri 5 lalu di Sirkuit Sentul. Foto: Dok. NMC

NaikMotor – Bergulirnya Indonesia Trackday Series (ITS) mendapatkan respons positif dari penyuka balap di Indonesia, terutama kalangan komunitas. ITS dibuat tanpa persyaratan yang rumit dan mahal, namun mengedepankan safety. Hanya beberapa regulasi Indonesia Trackday Series dinilai perlu dikaji lebih dalam.

Sejauh ini, ITS menerapkan regulasi yang dinamis dan merujuk aturan balap di Indonesia, salah satunya kewajiban memiliki Kartu Izin Start (KIS), meski baru hanya sebatas ditujukan untuk juara satu sampai tiga. Panitia lebih mengedepankan peraturan yang menjamin keselamatan peserta di lintasan balap, seperti penggunaan atribut balap lengkap, mulai dari helm, wearpack, dan sepatu balap.

Penjenjangan kelas balap di ITS menjadi sarana pendidikan buat para peserta, yang mana mereka bisa naik kelas sampai level profesional ketika mampu menembus batas catatan waktu lap yang ditentukan pada setiap kelas.

its_5_24

Tak sedikit pembalap kenamaan yang ikut meramaikan persaingan di setiap seri balap ITS. Tapi, bukan berarti para pembalap profesional bisa mendominasi jalannya balapan, justru joki non-profesional yang kerap memberi kejutan.

“Konsep balapnya sudah pas, regulasi soal mesin juga bagus. Menurut saya cukup baik format dan regulasi balap (ITS),” ujar Ahmad Saugi, pembalap yang banyak pengalaman di ajang balap motor domestik, termasuk balap skuter.

Peserta dari komunitas motor ikut menyerbu pertarungan di ITS. Di antaranya, tim balap Yamaha R25 Owners Indonesia (YROI) yang menurunkan puluhan pembalap.

“Di seri terakhir (Rangkaian ITS 2016) kami menurunkan 30 pembalap. Kompetisi di ITS membuat pembalap YROI belajar, tidak hanya berkompetisi dengan teman sendiri. Saran saja buat penyelenggara ITS, penjenjangan lebih baik dilakukan per tahun, jangan setiap seri, karena memberatkan peserta. Selain itu, soal KIS menurut saya keharusan,” ungkap Ketua Umum YROI, Murray saat dihubungi NaikMotor, Selasa (17/1/2017).

Foto: YROI
Foto: YROI

Di sisi lain, Asosiasi Honda CBR Indonesia (AHC) yang ikut memeriahkan ITS dengan membuka kelas One Make Race (OMR) CBR, berharap penyelenggara lebih teliti dalam mengawasi balapan, terutama soal scrutineering.

“Masukan kami supaya ITS lebih selektif dalam penjenjangan, supaya tidak ada pembalap profesional main di kelas pemula. Untuk regulasi, lebih baik kalau setelah race pihak ITS melakukan scrutineering untuk mengecek apakah motor yang dipakai sesuai dengan regulasi, dengan begitu semua peserta dan tim lebih puas,” saran Ketua Pelaksana OMR AHC, Iwan Suryo. (Yudistira/nm)

 

LEAVE A REPLY

*