Rumor MotoGP 2017, Honda akan Gunakan Mesin Big Bang

2
122
Mesin Big bang
Pengetesan yang dilakukan Honda memunculkan rumor mereka akan menggunakan mesin Big Bang di MotoGP 2017. Foto: MCN

NaikMotor – Pengujian tertutup yang dilakukan kedua pembalap Repsol Honda serta Cal Crutchlow memunculkan spekulasi Honda akan gunakan mesin Big Bang di MotoGP 2017.

Berbeda dengan kebanyakan tim MotoGP lain yang usai balapan di Aragon memanfaatkan waktu ‘libur’ selama 3 minggu menjelang seri-seri terakhir musim 2016. Tim Repsol Honda malah melakukan serangkaian tes motor di Aragon awal pekan ini. Pengujian mesin itu kelanjutan dari pengetesan sebelumnya yang dilakukan di Misano.

Sayangnya, pengujian kali ini dinyatakan tertutup bagi awak media. Diperkirakan pengetesan kali ini untuk mempersiapkan mesin baru untuk musim 2017. Sebab, selain kedua pembalap, Marc Marquez dan Dani Pedrosa ada pembalap LCR Honda, Cal Cruthlow yang turut melakukan pengujian.

MCN mensinyalir mereka tengah menguji Honda RCV213 bermesin baru untuk musim MotoGP 2017 yang akan mengalami banyak ubahan dibandingkan model saat ini.

Mesin yang diperkirakan menganut fitur order pengapian Big Bang atau dalam satu waktu dua silinder melakukan pembakaran bersamaan. Berbeda dengan model 2016 saat ini yang menganut screamer, pembakaran secara bergantian di antara keempat silindernya. Mode yang akan membuat mesin RCV213 itu sedikit lebih jinak, seperti yang diinginkan kedua pembalapnya dalam dua musim terakhir.

Meski demikian, Shinichi Kokubu, technical director Repsol Honda tak juga memberikan gambaran mengenai mesin baru itu, “Belum waktunya mengatakan sesuatu mengenai mesin, masih dalam pengujian. Suatu saat nanti akan kami sampaikan. Kami menguji banyak mesin di Jepang, tetapi kami tak bisa mengatakan apapun atas pengujian yang dilakukan bersama Marc dan Dani. Kami menguji banyak komponen mesin yang berbeda.”

Mesin Big Bang sebenarnya bukan hal baru di MotoGP maupun sepeda motor lainnya. Kawasaki pernah menerapkannya pada ZX-RR MotoGP pada 2005. Yamaha pernah menerapkannya pada model produksi YZF-R1 2009. Bahkan Honda sendiri menerapkan pada VFR800.

Sementara saat jaman Grand Prix 500, Honda pernah menerapkan langkah serupa pada NSR500 pada 1990, hanya saja saat itu setiap dua piston diikat pada sebuah crankpin. Langkah yang diikuti Yamaha untuk YZR500 pada 1992, Yamaha menerapkan dua crankshaft.

Tujuan penerapan Big Bang adalah untuk mengail torsi lebih simultan atau dalam putaran mesin lebih rendah dibandingkan pada mesin screamer. Tetapi mesin demikian mempunyai kelemahan akan besarnya getaran dan stress pada mesin. Meski tenaga puncak pun akan lebih besar dan bisa mengakibatkan slip pada roda belakang. Namun, jeda antara torsi dan tenaga puncak cukup jauh, slide roda belakang masih bisa dikendalikan, sepeda motor pun lebih ‘jinak’.(Afid/nm)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

*