Ini Penyebab Harga Vespa Kongo Makin Melejit

0
737
Vespa Kongo
Vespa Kongo menjadi buruan para pecinta dan kolektor Vespa di Indonesia. Foto: Rannu

NaikMotor — Vespa VGLB atau biasa disebut Vespa Kongo masih menjadi salah satu barang incaran fanatik Vespa. Selain punya nilai sejarah, populasinya tidak banyak di Indonesia dan ini yang membuat harganya makin melejit.

Vespa merupakan salah satu merek sepeda motor legendaris dan punya penggemar tersendiri di seluruh dunia, begitu juga di Indonesia. Sejak pertama kali mengaspal pada era tahun 1940-an, Vespa  hadir dalam berbagai varian, salah satunya seri VGLB atau lebih familiar Vespa Kongo.

Sampai saat ini, Vespa VGLB masih menjadi buruan para pecinta dan kolektor Vespa di Indonesia. Saking gandrungnya, para pecinta Vespa bahkan ada yang tak pikir panjang untuk merogoh kocek yang dalam untuk mendapatkannya.

Vespa Kongo
Rannu, dengan Vespa Kongo kesayangannya. Foto: Dok. Pribadi

“Vespa VGLB saya pernah ditawar 80 juta, meski menggiurkan, tapi tidak saya jual karena nyarinya susah, terutama yang kondisi body, mesin serta surat-surat yang masih lengkap” ungkap Rannu selaku pemilik Vespa VGLB warna hijau lansiran 1963.

Rannu menambahkan, “Populasinya tidak banyak di Indonesia, komunitas VABCN, Vespa VGLA VGLB CLASS Nusantara yang ada saja anggotanya hanya 90 orang sampai saat ini, ya karena unitnya tidak mudah mendapatkannya. Selain itu terkadang yang punya juga tidak mau jual meski diiming-iming harga mahal bahkan tidak masuk akal.”

Sedikit menengok sejarah dari berbagai sumber yang kami himpun, Vespa VGLB merupakan hadiah dari pemerintah Indonesia untuk para Tentara yang telah menyelasaikan tugasnya sebagai pasukan perdamaian di Kongo, Afrika.

Vespa Kongo hadir dalam tiga warna dan punya makna tersendiri. Warna hijau dengan kapasitas 150cc diberikan untuk tentara yang pangkatnya lebih tinggi, kemudian disusul warna kuning dan biru 125cc untuk tingkat kepangkatan yang lebih rendah.

Vespa Kongo
Populasi Vespa Kongo sangat langka. Foto: Rannu

Selain itu Vespa Congo tidak diproduksi di Italia melainkan di Jerman. Dengan berbahan baku plat baja yang lebih keras daripada Vespa bulat umumnya, vespa ini memiliki tingkat kelengkapan yang lebih dibanding vespa buatan Italia yang umum beredar di Indonesia (VBB1T maupun VBB2T).

Jacob Oswald Hoffmann adalah orang Jerman yang berjasa memasukkan vespa ke Jerman. Kerjasama vespa dengan Hoffmann putus awal tahun 1955 karena Hoffmann mendesain model sport sendiri.

Kemudian vespa bekerjasama dengan Messerschmitt Co. yang kemudian mengeluarkan produksi vespa pertamanya pada tahun 1955 itu juga. Mereka mengeluarkan dua model yaitu Vespa GS yang di Indonesia sering disebut sebagai GS versi Jerman dan 150 Touren.

Vespa Kongo
Ciri khas Vespa Kongo nomor mesin dan rangka diawali dengan VGLB. Foto: Rannu

Ciri khas Vespa Congo bisa terlihat dari Spakboard bulat tidak ada sambungannya seperti vespa umumnya, Ring (pelek/teromol) 10 inchi, Punya tonjolan seperti tombol atau saklar di sambungan koplingnya (posisi setang sebelah kiri), Spidometer kotak dan agak besar (berbeda dengan spidometer VNA/VNB), Ada lambang garuda di body depan sebelah kiri (sekarang jarang yang ada), Di atas spidometer ada lampu kecil seperti lampu cabe, Nomor mesin diawali dengan kode VGLB, tahun produksi 1961-1963 dan di BPKB tercantum tulisan ex Brigade Garuda III.

Untuk harga Vespa VGLB atau kongo memang tidak ada harga pasaran pada umumnya, namun saat ini jika dilihat dari website jual beli dan informasi dari komunitas harga vespa tersebut sudah di atas 50 juta bahkan bisa menyentuh angka Rp 100 juta. (Daus/ Contrib/ NM)

LEAVE A REPLY

*