Perjalanan Cahaya Dewi Siti Hawa: “Saat Uang Ada Tapi Bukan Segalanya”

0
Perjalanan Cahaya
Menembus dingin pesisir sepanjang Pantura membuat saya menggigil. Foto: Dok Pribadi

NaikMotor – Sendiri atau beramai-ramai, naik motor tetap menyenangkan. Apalagi jika mengemban visi misi bakal lebih berkesan. Seperti yang dilakukan melalui Perjalanan Cahaya Dewi Siti Hawa, perempuan asal Cirebon, Jawa Barat, yang solo riding ke tempat-tempat terpencil.

Artikel selanjutnya ditulis oleh Dewi Siti Hawa. Tulisan dibuat berseri untuk memudahkan mengenali jalan bercerita.(Rls/nm)

Dewi Siti Hawa

“Saat Uang Ada Tapi Bukan Segalanya”

Minggu, 30 Juli 2017: dini hari jam 3 pagi saya mulai gas pelan pelan dari Cirebon menuju Pantura, seperti biasa sendirian.

Angin bulan Juli yang menerpa kencang membuat ‘kebo besi’ terbawa oleng sana-sini dan debu yang menyapu jalanan hampir menggoyahkan niat saya untuk pergi. Tapi satu kisi hati membisik lebih kuat dari kisi lainnya untuk menabung pahala lebih keras lagi, atau setidaknya 50 50 (fifty-fifty) 50 akherat 50 duniawi.

O iya bagi yang belum tau apa itu Perjalanan Cahaya,  baiknya saya jelaskan terlebih dahulu, bahwa Perjalanan Cahaya merupakan perjalanan dengan roda dua menyusuri kampung yang jauh dari perkotaan untuk mengetahui masalah sosial yang terjadi disana terutama masalah penerangan dan membaca.

Buat saya pribadi ‘perjalanan cahaya’ adalah salah satu tujuan saya dalam menjadi manfaat buat orang lain yang ada kaitannya dengan hoby.

Dewi Siti Hawa

Sambil motoran menabur benih kebaikan dengan pengharapan menuai kebaikan lalu karma-karma baik pun berdatangan.. Amin. Khususnya saat memasuki gapura Kabupaten Subang.

Ini lho hiburan menarik buat saya di kilometer ini adalah para bapak-bapak penangkap lembaran uang di sepanjang jembatan di kanan-kiri jalan, lengkap dengan ‘sapu-terbang-nenek sihirnya’ satu orang satu sapu. Sambil lewat sambil melepaskan beberapa lembar rupiah yang dengan sigap ditangkap para pemburu .. SERU!!

Dewi Siti Hawa

Matahari mulai nampak saat saya melaju di kilometer 100 , seperti biasa 120 km ditempuh 2 jam saja pukul 5 pagi saya sudah di Cikampek. Menunggu dijemput om Rama founder dari Perjalanan Cahaya Purwakarta di gerbang tol Cikopo, sambil memesan segelas kopi dan mie gelas instan saya menikmati pemandangan bus yang ngetem menunggu penumpang.

Sebuah rutinitas pagi yang mulai hidup. Eeee…..ternyata saya salah menunggu, karena seharusnya alamat yang saya cari masih jauh di depan sana di gerbang tol berikutnya yakni di  tol Sadang, hadew…..haha…..“maaf ya om rama jadi nyari nyari saya”
Dewi Siti Hawa

Sebenarnya kampung Tegal Panjang tidak terlalu jauh dari pusat kota Purwakarta, hanya berjarak 30 km saja. Tapi, akses untuk menuju ke kampung tersebut tidaklah semudah biasanya.

Dari jalan aspal utama kemudian jalan desa, jalan kampung, jalan batu, kemudian setapak, berakhir dengan jalan digalangan sawah sepanjang 1 km. Benar benar desa yang sulit dikunjungi bukan?

2 bulan yang lalu saat tim ‘Perjalanan Cahaya’ datang berkunjung di kampung ini, belum masuk listrik dan sebenarnya kedatangan kali ini memang untuk kepentingan ini.

Tetapi ternyata kemudian saat Perjalanan Cahaya datang kembali ternyata sudah ada pemasangan listrik dari pemerintah, jadilah misi beralih kepada giat sosial yang kali ini kebetulan sekali adalah terlihat sebuah masjid jami’ atau lebih tepatnya mushola yang karena keterbatasan banyak hal, dan juga digunakan untuk ibadah sholat Jum’at yang keadaannya sangat miris sekali.

Untuk membenahi mushola ini lah Perjalanan Cahaya datang lagi membawa semua donasi yang dibutuhkan. Target utamanya mushola, tetapi di sampingnya ada balong, dimana balong merupakan sumber air utama penduduk kampung ini digunakan untuk segala keperluan termasuk kebutuhan memasak.

Saya hampir menangis, jadi inget di rumah air bersih melimpah ruah. Apalagi saat jamuan makan siang tiba rasanya hati ini sedih sekali mengingat saya itu termasuk rewel soal makan. Kalo tidak suka makanannya memilih untuk tidak dimakan. Tapi di kampung ini saya tidak punya pilihan. Tidak ada jajanan cemilan apalagi ice cream, yang ada cuma nasi-ikan asin & garam, yang penting bisa mengganjal perut dan ada tenaga untuk bekerja di ladang.

Jajan bakso bisa jadi cuma sekali sekali saja sebab cuma ada di desa terdekat jaraknya sama dengan jarak tempuh Perjalanan Cahaya menuju desa ini. Wew..Penduduk kampung ini mengaku mereka punya uang tapi tidak tau akan digunakan untuk apa?

Rumah saja berhadap hadapan dengan kandang kambing, tidak ada MCK(Mandi Cuci Kakus) permanen ..Karena untuk mengadakan bahan baku bangunan akses jalan menuju tempat ini tidak memungkinkan.

Tidak ada gadget, tidak ada komputer, tidak tersentuh teknologi peradaban. Sehari saja di sini saya bingung, sungguh tidak percaya saja dengan apa yang saya lihat.Akhirnya saya terisak juga saya malu pada diri sendiri yang sering mengeluh sering tidak puas diri.

Perjalanan ini semoga dapat menjadi inspirasi dan mengetuk hati teman teman semua…..Ternyata bukan cuma langit yang untuknya kita harus mendongak ke atas lalu terlupa bahwa di bawah ada bumi yang di atasnya kita berjalan mondar-mandir…… Jadi manusia yang sadar akan dirinya dan tidak lupa untuk selalu bersyukur.

Salam adventure..

LEAVE A REPLY

*