Dewi Siti Hawa Story: Let’s go Borneo “Balikpapan to Bontang”

0
40
Dewi Siti Hawa
Ini kali pertama saya ke Kalimantan atau lebih familiar Borneo. Foto: Dok Pribadi

NaikMotor – Sendiri atau beramai-ramai, naik motor tetap menyenangkan. Apalagi jika mengemban visi misi bakal lebih berkesan. Seperti yang dilakukan oleh Dewi Siti Hawa, perempuan asal Cirebon, Jawa Barat, yang solo riding ke tempat-tempat terpencil.

Artikel selanjutnya ditulis oleh Dewi Siti Hawa. Tulisan dibuat berseri untuk memudahkan mengenali jalan bercerita.(Rls/nm)

Dewi Siti Hawa

Let’s go Borneo “Balikpapan to Bontang”

Hari ini, 24 Juni jam 13.00 atau jam 1 siang saya tiba di kota Balikpapan, ini kali pertama saya ke Kalimantan atau lebih familiar orang luar negeri menyebutnya Borneo, kesan pertama tercengang……aspalnya muluuuuuss banget.

Menunggu jemputan dari Byonic-Balikpapan saya diwanti-wanti untuk tidak berpindah tempat, jadi saya tidak beranjak sedikitpun’, jadilah saya belum ambil foto-foto. Selang beberapa saat saya di jemput om Eko, lalu jam-3 sore saya sudah tiba di sekre-Byopan (sekretariat byonic Balikpapan).

Bertemu langsung dengan semua teman-teman disini yang biasanya cuma chat di fb, terpaut waktu dan selat, kini jadi tau dan bertatap muka dengan om Donal, om Husni juga teman yang lainnya, sambutan hangat yang luar biasa dari mereka…amazing.

Dewi Siti Hawa

Jam 5.00 sore  waktu setempat, saya mengunakan tunggangan Yamaha Byson milik om Eko, kemudian saya dilepas oleh teman-teman byonic di km 54 atau bukit Soeharto dikabarkan merupakan sebuah tempat biasa para rider melepas lelah sejenak.

Jarak Balikpapan menuju Samarinda sekitar 130 km, 70km sisanya saya riding pelan-pelan saja sambil menikmati view lembayung senja yang masih nonggol di sela-sela langit yang beranjak mulai gelap.

Pomp bensin (SPBU) tidak nampak sedari tadi, ah mungkin belum… tapi ternyata memang sangat sedikit di jalur ini. Dari jarak 250 km saya hanya menemui 2 atau 3 SPBU saja, itupun sudah tutup di malam hari. Eitt jangan khawatir karena penjual bensin eceran berjejer sepanjang jalan.

Sekitar jam 20.00 WITA saya tiba di kota Samarinda, dijemput oleh om Rizal dari byonic-Bontang di jembatan sungai Mahakam dan berhenti sejenak untuk sekedar coffee break. Saya melanjutkan sisa perjalanan dengan hati berdebar-debar, sederet pesan yang membuat saya nyengir, antara takut dan ngeper.

Dewi Siti Hawa

berikut kurang-lebihnya pesan-nya ;

Jangan bawa ketan telur singkong dan kopi karena bisa mengundang mahluk halus

Jika terbit selera makan atau minum, makanlah di tempat, jangan ditunda atau istilah setempat ‘kepohonan’ atau sakit. Jangan juga dibawa atau take away karena bisa mengundang mahluk halus jika tidak menyertakan penangkalnya yaitu selembar daun yg dipetik dan diselipkan diantara makanan.

Semua pantangan (pesan) ini dikarenakan saya akan melewati wilayah gunung Menangis yang masih angker dan kental mistisnya.

Jalan aspal menuju Bontang tidaklah semulus jalanan dari Balikpapan menuju Samarinda. Banyak jebakan batman’, ada kala jalan untuk satu arah atau sistem buka-tutup, ada jembatan rusak dan jalan berlubang dikanan-kiri, juga debu yang tebal.

Berbeda ketika saat saya di Dompu-Nusatenggara jam 20.00, jam segitu  sudah sangat sepi, tapi disini masih ramai, masih ada warung buka dan kendaraan lalu-lalang, meski tidak terlihat banyak orang berseliweran.

Tipe jalan yang sebentar hutan-sebentar pemukiman sedikit menenangkan hati, saya sedikit terlena oleh view yang pastinya akan sangat cantik jika siang hari. Saya salah arah, yang tersadar ketika sekitar 4 kilometer jalan mendadak menjadi sepi, hanya berani berkata dalam dihati, saya harus bertanya untuk memastikannya.

Dewi Siti Hawa

Pada rumah pertama yang saya temui saya berhenti, kebetulan sekali ada orang didepannya. Saya berhenti dan membuka helm, baru saja saya mengucap salam, eee tapi malah sudah ditinggal lari oleh orang tersebut. Saya heran lho kenapa? Ada yang salah dengan saya?? Ahha…..buru buru tersenyum, setelah orang tersebut kembali dengan melilitkan handuk dan tertawa tawa malu-malu.. Oalah ternyata..

Kembali ke jalan utama dan melanjutkan perjalanan semakin malam semakin sepi, sedangkan jarak-tempuh masih sisa kurang-lebih 100 km lagi.

Jarak beratus kilo dengan kontur jalan berupa turunan dan tanjakan tanpa tanda membuat saya harus kembali bertanya…dan saya pikir saya beruntung ketika tepat di depan saya ada orang berdiri disisi kiri, segera saja saya hampiri, tapi saya salah, karena ternyata orang tersebut adalah ” orang gila “

Uwaaaduuhhh malam beragam banget yaa kejadiannya….

Alhamdulillah ternyata saya sudah dekat dan sudah dijemput koko Gun dan istri nya juga teman-teman byonic-Bontang. Malam ini saya bermalam disini….di Bontang

LEAVE A REPLY

*