Kolaborasi Indonesia Scooter Championship dan Indoclub Menuai Polemik

0
Kolaborasi Indonesia Scooter Championship dan Indoclub Menuai Polemik
Pengabungan balap ISC dan Indoclub menuai polemik dari pembalap Vespa di seri penutup yang berlangsung 2-3 Desember 2017 di Sirkuit Karting Sentul, Bogor. Foto: Yusuf Arief

NaikMotor — Kolaborasi Indonesia Scooter Championship (ISC) dan Indoclub menuai polemik di kalangan pembalap Vespa. Polemik seputar penggabungan balap Vespa dengan motor Jepang ini berbuntut merosotnya jumlah peserta di seri penutup yang bertitel ISC Indoclub Championship 2017.

Selama 2017 ISC telah menggelar 4 seri di Sirkuit Karting Sentul, Bogor, Jawa Barat. Pelaksanaan Seri 1 (12 Maret), Seri 2 (13 Agt 2017) dan seri 3 (1 Okt 2017) yang dihelat dalam 1 hari sukses digelar ISC sebagai balapan Vespa bergengsi di Indonesia. Namun pada hajatan seri 4 atau seri penutup yang telah berlangsung pada 2-3 Desember lalu, ISC menggandeng Indoclub sebagai penyelenggara.

Bukan tanpa alasan Kolaborasi ini dilakukan oleh ISC yang notabene telah memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan balap Vespa. H. Yunus, Ketua ISC, mengatakan, kolaborasi balap ISC dengan Indoclub diharapkan dapat makin besar dan semarak dengan kelas-kelas yang dilombakan. Arah kerjasama ini membawa balapan yang ada ke tingkat kejurda.

“Kami yakin kolaborasi ini bisa berjalan dengan baik, karena Indoclub telah berpengalaman menggelar balapan motor Jepang dan kami berpengalaman di scooter khususnya balap Vespa,” pungkas H. Yunus.

Konsistensi Dapscoots Hasilkan 18 Piala Selama Musim Balap Vespa 2017
Kolaborasi yang dilakukan ISC berpengaruh pada jumlah peserta balap Vespa. Foto: Yusuf Arief

Nama ajang ini pun berubah tidak lagi ISC atau Indoclub, tapi jadi ISC Indoclub Championship 2017. Karena penggabungan dua kejuaraan, kelas yang dilombakan pun membengkak mencapai 29 kelas (14 Kelas Vespa dan 15 Kelas Jepangan) dengan jumlah peserta 169 pembalap dan 375 starter.

Namun dari data peserta balap yang kami terima dari panitia jika dibandingkan dengan seri 3, terjadi penurunan drastis peserta balap Vespa. Tercatat dalam seri penutup ini hanya diikuti 51 pembalap dengan 164 starter.

Sosialisasi kolaborasi kepada peserta yang masih belum maksimal berpengaruh besar terhadap penurunan jumlah peserta yang berlaga, ditambah adanya peleburan kelas yang dilombakan, seperti kelas FFA Small Frame ke All Scooter FFA ISC (Non Jepang).

“Informasi dan sosialisasi mendadak sekali. Peraturan baru di lapangan yang belum kami ketahui dan penggabungan kelas ini yang saya pikir banyak tim balap mundur. Secara pribadi saya berharap tahun depan balap Vespa jangan digabung lagi. ” ungkap Ahmad Syarif Rivai dari Tim Vespa Art yang terkenal di kelas 2Tak.

Masalah pendaftaran, paddock hingga penggabungan kelas dikeluhkan oleh beberapa tim balap saat berlangsungnya seri penutup yang berlangsung selama 2 hari. Menurut Adi VAC dari Tim GUNSSPEED HOENTOE 14 MOTOR VAC, sejak pendaftaran sudah agak rancu, tidak sesuai dengan nomor pilihan atau nomor Favorit. Penempatan paddock sebaiknya dikelompokan antara Vespa dan Motor Jepangan jangan digabung serta yang paling penting paddock tidak bayar ke panitia.

Kolaborasi Indonesia Scooter Championship dan Indoclub Menuai Polemik
Penggabungan kelas saat race juga menjadi polemik. Foto: Yusuf Arief

“Untuk Kelas 40++, antara Vespa Matic dengan Vespa 2Tak harus dipisah. Kami harap penyelenggara terutama ISC bisa menerima masukan ini supaya balapan tahun depan lebih banyak pesertanya dan tidak dicampur dengan motor Jepangan.” tegas pembalap senior Vespa 2Tak yang konsisten mengikuti seri ISC.

Hal senada juga diungkapkan tim balap Vespa Matic yang ikut berlaga di seri penutup ini.  Ahmad Jayadi, Manager AJM Skuter n Prens, menyarankan sebaiknya semua bisa duduk bareng untuk mendiskusikan dan menyempurnakan balapan Vespa yang lebih mumpuni.

“Terimakasih atas terselenggaranya event balap Vespa ini. Sehingga teman-teman yang sudah bangun motor ada wadahnya. Harapannya balap Vespa ini ke depan bisa lebih ramai, sehingga bisa balapan sendiri khusus Vespa semua,” terang mantan pembalap Nasional ini secara diplomatis.

Meski mengakui pelaksanaan seri penutup ISC Indoclub Championship 2017 lebih tertata dan cukup bagus, kepada naikmotor.com Dani Priyambada, Manager Tim Dapscoots, mengungkapkan, di seri penutup untuk kelas Vespa jadi kurang privilage (istimewa) lagi dan kelasnya jadi sedikit.

Kolaborasi Indonesia Scooter Championship dan Indoclub Menuai Polemik
Aksi pembalap di kelas Vespa 2Tak. Foto: Yusuf Arief

Bagi Deny Wajonk, Ketua Pedepokan Cornering yang menjadi panitia ISC Indoclub Championship 2017, perdebatan sengit yang terjadi di pembalap Vespa atas penggabungan ini adalah sesuatu yang wajar, karena ini adalah yang pertama dilakukan dan belum bisa mengamodir semua keinginan pembalap yang pada akhirnya berpengaruh pada jumlah peserta balap Vespa.

Ia pun berencana akan mengundang  para pembalap untuk mendiskusikan rencana musim balap tahun depan. Kolaborasi ISC dan Indoclub tentu akan tertata lebih baik dan menjadi ajang kompetisi yang profesional serta menjadi tontonan yang seru.

“Kami akan mengundang semua pembalap untuk tukar pikiran dan Kami yakin jika pembalap sudah terbiasa dengan treatment dari Kami selama ini, balapan akan makin seru,” imbuh Deny kepada naikmotor.com melalui sambung telepon selulernya. (YA/ nm)

LEAVE A REPLY

*