Ini Rasanya Kencan Singkat Bersama Kawasaki W175

0
547
Kawasaki W175
Kendati bertajuk test ride namun saya lebih suka menyebutnya first ride. Karena buat saya ini adalah kencan pertama yang mengasyikan. Foto: Mohammad Ghalib

NaikMotor – Pukul 10.00 WIB saya sampai di Rainbow Hills Club House, Sentul, Bogor. Langit kali ini tidak secerah biasanya, awan gelap menutupi matahari. Meski begitu saya percaya hari bakal kembali cerah, sebab ini adalah kali pertama saya akan menjajal Kawasaki W175.

Sejak meluncur di Kawasaki Bike Week (KBW) di Pantai Carnaval Ancol 18 Oktober lalu W175 memang cukup menyedot perhatian. Di atas kertas inilah motor yang digadang Kawasaki Indonesia sebagai salah satu pionir di kancah motor retro klasik Tanah Air.

Kawasaki W175

Makin spesial tes kali ini merupakan tes resmi W175 pertama di dunia yang dinisiasi PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI). Lokasi test ride di Bukit Pelangi, Sentul, Bogor dipilih karena dianggap sesuai dengan kontur jalanan Indonesia, yakni bergelombang dan naik turun.

Model yang saya pakai ialah W175 Special Edition (SE). Perbedaan antara versi SE dan versi standar hanya soal permainan kosmetik. Versi standar dibanderol Rp 29.800.000 sedangkan versi SE yang tersedia dalam tiga warna dibanderol Rp 30,8 juta OTR Jadetabekser.

Kawasaki W175

Pertama kali duduk di jok W175 nyatanya saya sedikit keliru. Meski posturnya terlihat lebih mungil dari W250 bukan berarti motor ini setara Honda CB100 lawas. Dengan tinggi jok dari tanah 775 mm, Anda yang berpostur 169 cm ke bawah mesti sedikit jinjit.

Melongok instrument cluster maka baru terlihat bahwa Kawasaki memang sengaja mendesain motor ini supaya punya aura retro yang kental. Bukan hanya kental tapi juga ‘sangat laki.’ Mengapa demikian? karena segala penunjuk motor persis seperti motor batangan jaman dulu.

Speedometer bulat yang tidak seberapa besar itu hanya mencakup penunjuk kecepatan, odometer dan trip meter. Disampingnya ada tiga lampu penanda, biru untuk lampu lauh, hijau penunjuk sein kiri-kanan dan terakhir hijau buat posisi gigi netral.

W175 tidak punya indikator bensin, tipikal motor jadul. Cara mengetahui masih ada bensin hanya ada dua, pertama rajin mengecek lewat lubang tangki, dan kedua pakai terus sampai motor menunjukkan gejala hampir mati kemudian putar keran bensin.

Putar kunci kontak, masukkan gigi satu dan motor mulai jalan. Nyatanya tidak butuh waktu lama untuk mulai akrab dengan W175. Saya pun mulai mencongkel gigi ke tinggkatan lebih tinggi, saya beranikan membejek gas dan rasakan tarikannya yang responsif tapi tidak liar.

Respon mesin dari gigi satu sampai tiga merata juga enak buat digas. Gigi satunya lumayan panjang sesuai karakteristik motor retro. Tujuannya supaya kala macet pengendara tidak pegal harus bermain di gigi satu-dua karena sentakan torsi.

Bisa dibilang W175 cocok untuk diajak wara-wiri di perkotaan. Bodi ringkas, tarikan bawah enak dan posisi berkendara ala motor retro classic punya keunggulan tersendiri. Namun tentu ia bukan motor yang sesuai jika yang dicari adalah untuk kebut-kebutan.

Kawasaki W175

Kesan pertama naik motor ini sangat lincah. Radius putar yang besar dan bobot yang cukup ringan untuk ukurannya membuat pengendalian mudah. Berat kosong W175 tercatat 126 kg, persis seperti Binter Merzy (Kawasaki KZ200). Bobot itu bahkan lebih ringan 3 kg dari Honda Verza 150.

Sedikit catatan, setang agak pendek buat proporsi saya. Sebab jika dihitung dari tanah tingginya hanya 1.030 mm. Jika lebih tinggi sedikit rasanya riding position di bagian atas tubuh bakal lebih nyaman, apalagi buat yang berpostur di atas 175 cm.

Lantas apa artinya proporsi tersebut bikin punggung cepat pegal? jawabannya tentu tidak. Jok tebal dengan jahitan ala sang kakak W800, dengan fork depan 30 mm dan dual shock di belakang sudah dipikirkan matang oleh insinyur Kawasaki.

Perasaan yang berbeda justru terasa saat duduk di bangku belakang. Busa jok tebal memang sedikit membantu tapi tidak dengan ruang yang sempit. Ditambah tidak ada pegangan belakang buat penyangga bokong, alhasil saya harus pegangan atau melingkarkan tangan ke perut pengendara.

Sama seperti W250 dan W800, W175 memang tidak didesain punya handel belakang berbeda dengan Binter Merzy agar yang dibonceng tetap nyaman. Namun hal ini bisa jadi keuntungan buat yang suka bonceng lawan jenis loh.

Kawasaki W175

Spesifikasi mesin W175 sejatinya mengadopsi milik Kawasaki Eliminator 175, yakni motor cruiser kecil dan menengah yang dijual di India. Pihak Kawasaki Indonesia pun mengklaim meski memakai basis yang sama namun pihaknya sudah mengubah beberapa detail.

Dapur pacu Kawasaki W175 mengusung mesin 4-tak satu silinder berpendingin udara berkapasitas 177 cc. Pengabutan bahan bakar masih andalkan karburator dari Mikuni VM24. Tenaga yang dihasilkan 13 hp pada 7.500 rpm dan torsi 32 Nm pada 6.000 rpm.

Kawasaki W175

Kesimpulan
Seperti saya sebut di awal, ini adalah kencan pertama saya dengan W175, dan selayaknya pasti masih ada rasa canggung. Dimana saya canggung melihat posisi plat nomor di depan speedometer. Buat saya ini merusak estetika karena seperti orang yang tengah dikompres.

Tapi itu bukan masalah besar. Tidak lama pasti bakal ada aksesori yang menyediakan tatakan plat di bawah lampu. Setelah itu dijamin, aura motor yang punya garis turunan dari keluarga W-Series adopsi BSA A7 atau lebih tepatnya Meguro A7 ini bakal lebih keluar.

Buat penggemar motor retro tampilan W175 pasti menggoda. Apalagi buat pecinta Kawasaki retro yang sudah punya atau belum kesampaian punya Binter Merzy, maka W175 bisa jadi alternatif. Pun demikian buat yang ‘gak mau ribet’ ingin punya motor buat basis custom.(Agl/nm)

LEAVE A REPLY

*