Old Fox Never Dies! Jusri Pulubuhu Podium 2 Drag Race H-D 1.550cc

0
Jusri Pulubuhu
Slogan Old Fox Never Dies rasanya cocok buat menggambarkan Jusri Palubuhu. Ia berhasil menggondol podium 2 di kelas H-D FXR Dyna & Softail s/d 1550cc di IBBDRC 2017. Foto: Istimewa

NaikMotor – Slogan Old Fox Never Dies rasanya cocok buat menggambarkan Jusri Pulubuhu. Meski usianya sudah kepala enam, ia berhasil menggondol podium 2 di kelas H-D FXR Dyna & Softail s/d 1550cc di gelaran perdana Indonesia Big Bike Drag Race Championship (IBBDRC) 2017.

Jusri yang tergabung di Tim Bimo Custombikes ini terbukti masih sanggup meladeni anak-anak muda. Dengan lihai pria yang selalu konsern soal safety riding ini ‘membetot’ Harley-Davidson Dyna tahun 1996 tunggangannya melahap 402 meter dengan waktu 12.858 detik.

“Motor ini hampir 10 tahun enggak hidup. Kita cuma flushing oli, ganti busi, dan test dyno buat cocokin rpm. Abis itu kita cuma test bagaimana kondisi mesin apakah bisa turun, dan akhirnya kita ikut, pakai spek sama persis waktu terakhir drag race 2004,” kata pemilik JDDC, Jakarta Defensive Driving Consulting.

Hebatnya Jusri mengaku tidak puas dengan time yang dicetaknya di Lanud Rumpin, Minggu (29/10/2017). Ia bahkan memasang target bisa tembus 11 detik di seri kedua awal tahun depan. Karena waktu test perdana Sabtu (28/10/2017) ia sudah bisa tembus di bawah 12 detik

“Tahun 2004 itu jokinya bukan saya tembus 12,3 detik. Saya bertekad saya mesti lebih cepat dan itu kesampaian waktu reaction time saya udah di bawah 12 detik. Cuma karena motor ini turun di 3 kelas, saya bilang jangan dipaksa banget takutnya enggak kuat,” kata Jusri Pulubuhu.

Jusri Palubuhu

“Nah makanya waktu race itu saya masih nahan dan cuma dapet 12,8 detik. Waktu reaction time saya start di 3.300 rpm dan kecepatan motor itu bisa lebih 180 km, saat race saya jaga di 2.500 rpm, kecepatan motor hanya 170 km/jam dan waktunya lebih lambat hampir satu detik,” jelasnya.

Jusri mengatakan usia bukan halangan baginya. Sebab drag race tidak terlalu menuntut fisik seperti balapan lain semisal GP atau motocross, dimana pengendalian mata tangan dan kaki dan refleks otak mesti dijaga setiap waktu.

“Drag race kan enggak murni skill full. Semua orang bisa tinggal ngegas,” katanya merendah. “Keikutsertaan saya juga mau memberi semangat kepada yang muda kalau yang tua juga bisa, dan buat penyemangat yang tua kalu yang tua juga masih bisa, itu aja,” pungkasnya.(Agl/NM)

LEAVE A REPLY

*