Scooterprix Harus Dibenahi Biar Makin Bergengsi

0

Scooterprix2015_sentul11

Sentul (naikmotor) – Antusias skuteris di ajang Scooterprix 2015 seri perdana kemarin di Sentul Karting harus difasilitasi dengan regulasi yang tidak sekadar mewadahi penghobi namun juga acuan prestasi.

Bukan apa, kini Scooterprix 2015 telah mempertontonkan pertarungan gengsi antartim dengan hadirnya nama-nama pembalap yang telah malang melintang di dunia road race seperti Irvan Chupenk, Ahmad Saugi, Oki Ristan, Dadan Alamsyah, Hendra Rusbule dan sebagainya.

Prapanca Racing Team, Skuter Keboot, Kutu Racing Team, Pro Scooter adalah di antara tim yang dihuni pembalap-pembalap unggulan di kelas 4T Scooter Modern. Bahkan di antara tim tersebut berani untuk mengontrak pembalap dengan nilai puluhan juta rupiah untuk mengarungi musim balap 2015.

Belum lagi hadirnya pihak Polini Italia yang membuat bobot event ini meningkat secara image hingga kalangan internasional. Untuk itu, penyelenggara harus mampu membuat Scooterprix tetap menyala dan menjadi barometer balap skuter di Indonesia dengan kemasan yang baik mulai penataan regulasi hingga konten pendukung acaranya.

Event yang berawal dari kalangan pehobi jangan sampai kehilangan jatidiri untuk memberikan tontonan menghibur namun juga mengacu pada prestasi dari hasil kompetisi yang sportif dan berkualitas.

Menurut Ahmad Jayadi, mantan juara Nasional road race yang turut menukangi Skuter Keboot Racing Team, fenomena hadirnya para pembalap di kelas skuter harus diantisipasi dengan penyempurnaan regulasi di kelas 4T untuk menambah bobot event makin berkualitas ke depannya

” Harus dibedakan antara kelas pembalap dan pehobi untuk membuat event ini tetap diminati.Tidak perlu banyak kelas di 4T, tiga atau empat kelas cukup, sedikit justru membuat atmosfer balap bergengsi,” sarannya.

Ditambahkan Jayadi, kalau melihat peserta di setiap kelas,125cc, 160cc atau 220cc,terkesan pembalapnya itu-itu juga dengan motor yang sama.”Kan dari sisi tontonan juga akan lebih menarik dan ditunggu penonton. Acuannya bisa dibuat seperti Indoprix atau Motoprix dengan memilih kelas utama agar tahu mana kelas bergengsi buat pembalap dengan tetap mengakomodasi minat para pehobi lainnya,” sebut Jayadi.

Scooterprix telah berhasil menarik para pembalap berlomba dalam tensi tinggi meski cuaca sempat diguyur hujan dalam babak kualifikasi maupun final.

Selain regulasi teknik, panitia juga kini harus memperhatikan faktor kelengkapan sebuah balapan, misalnya ketersediaan alat pemadam dan kesigapan marshall bila terjadi insiden.

Roesbangin, pimpinan lomba Scooterprix seri perdana juga mengakui perlu definisi yang jelas pada pembagian kelas,misalnya istilah Master atau Non-Seeded.

”Lebih baik disederhanakan dengan pembagian Pemula dan Seeded. Selain itu harus ada regulasi yang baku di balap skuter ini untuk segera dibuat peraturan dan dibawa ke komisi teknik IMI. Kita akan berdiskusi dengan penyelenggara untuk membantu balap skuter ke depannya lebih baik,”tukasnya.

Di sesi babak final, Roesbangin menerbitkan Buletin 1 berupa pengurangan lap pada kelas tertentu, 2 sampai dengan 4 lap dengan mempertimbangkan kondisi cuaca selalu berubah/tidak menentu, jumlah starter minim pada kelas tertentu, antisipasi safety pembalap dan adanya pembalap non-profesional.

Scooterprix 2015 yang didukung Ban Corsa, Evalube, Polini Indonesia, Energice melombakan empat kelas utama yang di akhir seri akan diganjar hadiah motor yakni kelas 4T 125-160cc Open dan 4T 125-220cc Master Class Open serta 2T Standard Seeded dan 2T FFA Open.

”Kami berharap bisa membawa pembalap terbaik dari ajang Scooterprix ke level yang lebih tinggi untuk mencicipi balap internasional,” tukas Priam Soesetyo, bos Scooterprix. (Arif/nm) Foto: Arif

LEAVE A REPLY

*