Merekam Keindahan Pantai Menganti Kebumen dengan H-D Street 500

2

H-D_Street_500-Menganti-Kebumen-Sacred-Run-BBMC_7
Menikmati panorama Pantai Menganti Kebumen Jawa Tengah dengan H-D Street 500. Foto: Arif

Jakarta (naikmotor) – Perjalanan mengikuti acara The 6th Sacred Run BBMC 2016 di Pantai Menganti Kebumen, (30-31/1/2016) lalu menjadi pengalaman tak terlupakan bagi kami. Kami bisa merekam keindahan alam indah Jawa Tengah dengan menunggang H-D Street XG 500 milik Mabua Motor Indonesia.

Berangkat dari Jakarta Jumat dini hari (29/1/2016)bersama rombongan BBMC Jakarta Chapter dengan bermacam motor, mulai H-D Sportster dan Royal Enfield Classic 500,membuat perjalanan kami melintas Bekasi, Cikarang, Karawang, Subang, Indramayu lebih cepat. Kondisi lalu lintas yang lengang membuat kami leluasa membuka gas dengan rata-rata di kecepatan 100 km/jam.

Menjelang pagi, rombongan makin banyak karena bergabungnya para anggota lain. Kami pun sedikit mulai mengurangi kecepatan seiring munculnya bus dan truk di jalanan Pantura. Suara lembut yang dikeluarkan H-D Street 500 kadang banyak membuat kaget rombongan lain saat menyalip. Beberapa kali kami melewati rombongan untuk mengabadikan mereka.

Sayang jelang siang, rombongan kami terkena musibah tabrakan beruntun akibat menghindari becak lawan arah di tikungan Jatibarang Indramayu yang mengakibatkan tiga anggota BBMC Jakarta Chapter terluka dan akhirnya dibawa ke Jakarta.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Cirebon. Di sini kemacetan mulai mengadang. Sosok H-D Street 500 yang kompak untuk ukuran moge membuat kami bisa bermanuver menyisir kepadatan jalan khususnya saat menghindar dari kesemrawutan angkutan umum. Mengendalikannya tidak terlalu repot dan liar didukung posisi tangan meraih setang serta ground clearance yang nyaman menjekakan kaki .Tanpa suara yang menggelegar dari knalpotnya membuat kami lebih santun di jalanan, tidak perlu mengocok gas seperti kebanyakan H-D yang lain saat konvoi.

H-D_Street_500-Menganti-Kebumen-Sacred-Run-BBMC_14

Kami menggunakan rute Selatan dengan berbelok dari Pejagan setelah beristirahat di warung sate yang terkenal dengan kambing mudanya. Rasa letih mulai melanda. Performa mesin bukan menjadi masalah, yang kami rasakan untuk jarak jauh, posisi berkendara dengan H-D Street 500 kurang nyaman khususnya pijakan kaki. Kaki kanan harus agak dalam menginjak rem karena posisi footpegs di tengah. Kami membayangkan bila posisinya dipindah ke depan model forward control.

Suasana mendung sudah terlihat hingga masuk daerah Bumi Ayu. Hujan pun turun dengan deras. Di sini kami mulai diuji karena jalanan tidak terlalu lebar dengan pandangan mata terbatas. Meski demikian, performa H-D Street 500 tidak kendur di lintasan basah. Suspensi H-D Street 500 juga mumpuni mengantarkan kami melibas jalanan berlubang tanpa bantingan berarti. Pengereman dan handling tetap stabil hingga akhirnya kami bertemu check point di Wangon Sari.

Setelah menginap di Genesa Fligh Academy Cilacap yang nyaman, esoknya kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Menganti Kebumen dengan menyusuri jalanan Daendels yang lurus dan mulus. Rombongan makin bertambah banyak dengan kehadiran motor-motor anggota BBCM lain di perjalanan. Beberapa kali kami mampu memacu kecepatan hingga mencapai 150 km/jam. Itu untuk melewati rombongan demi mengabadikan gambar.

Mendekati Pantai Ayah, handicap jalanan adalah tanjakan dan turunan curam. Kami bisa melihat perjuangan motor-motor tua menaklukan tanjakan ‘Harga Diri’ yang panjang. Tanjakan Harga Diri merupakan sebutan untuk pembuktian kemampuan motor menaiki tanjakan yang panjang bagi anggota BBMC dari masyarakat setempat.

Luar biasa sekali perjuangan mereka, sementara H-D Street 500 enggak perlu bersusah payah melewatinya. Namun, perjuangan berat tersebut terbayarkan setelah dari atas bisa menyaksikan hamparan keindahan Pantai Menganti.

Untuk menjangkau pantainya, kami harus menuruni jalanan curam. Ini mungkin yang membuat Menganti masih asing di kalangan wisatawan karena aksesnya cukup sulit. Dan pupus sudah kelelahan yang melanda kami usai finis di di acara The 6th Sacred Run BBMC 2016 dengan disambut fotografer untuk mengabadikan kami.

H-D_Street_500-Menganti-Kebumen-Sacred-Run-BBMC_9

Deretan tenda dan warung-warung menyambut kami. Sayangnya dari lokasi kami berada tidak bisa melihat sunset sore itu. Kami pun berisitrahat pulas di lantai warung sambil menunggu seremoni acara.

Suasana semakin meriah, masyarakat setempat ikut berbondong-bondong menuju acara dan bisa bertemu berfoto bersama dengan beberapa selebrita yang hadir semacam Chef Juna, Chef Haryo serta Bucek Depp. Terlebih saat pesta kembang api dinyalakan, mereka terlihat terpukau oleh rentetan bunyi dan konfigurasinya. Hebat kan? Klub motor bisa menghibur masyarakat.

Jelang malam, hiburan terus berjalan di panggung. Di berbagai sudut anggota BBMC berpesta di samping tenda. Sementara kami meneruskan istirahat di warung beralaskan tikar.

Bangun pagi suasana pantai menyambut kami. Setelah mengemas barang-barang bawaan, kami harus segera bergerak pulang dengan tujuan melalui jalur selatan. Oiya, sebelumya kami diberikan badges sebagai tanda telah mengikuti acara Wing Day keenam BBMC.

Rute pulang kembali menjadi perjalanan yang mengasyikan. Terhitung kami berenam dalam rombongan dengan menggunakan Triumph Thruxton, H-D Sportster, Fatboy hingga Shovelhead Police dan Royal Enfield. Jalanan rute selatan lebih menantang karena banyak jalan berkelok dengan jalanan yang padat. Namun, kegesitan dan tenaga H-D Street 500 yang dibanderol Rp 235 juta (off-the road) khususnya di putaran tengah membuat kami bisa menempel mereka.

Jelang Maghrib, kami tiba di Bandung. Ujian sesungguhnya kembali mengadang karena di tengah guyuran hujan harus menembus kemacetan Bandung di petang hari hingga masuk Padalarang. Kami hanya berempat mengandalkan H-D karena yang rombongan lain memilih diangkut motornya menuju Jakarta dari Bandung. Tebalnya kabut Puncak juga bukan masalah bagi Street 500 karena sorotan lampu depan sanggup menembusnya.

Akhirnya kami tiba dengan selamat di Jakarta pada Senin pagi (1/2/2016) pukul 03.00 WIB. Total jarak tempuh yang kami habiskan mencapai 900 km. Sebuah pengalaman yang mengesankan bisa merekam keindahan alam Pantai Menganti dengan H-D Street 500 termasuk menguji performanya. Dan bisa jadi, kami media terakhir yang diberikan unit test ride dari Mabua Motor Indonesia karena dikabarkan mereka akan menghentikan penjualannya. Sayang! (Arif/nm)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

*